Skip to content

Info Nutrisi bagi Penderita kanker

May 11, 2009

NUTRISI PADA PENDERITA KANKER

Kanker terjadi akibat perubahan sel yang melepaskan diri mekanisme Pengaturan normal. Kanker sendiri merupakan istilah yang menggambarkan keadaaan Penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak terkendali secara normal Yaitu multiplikasi dan menyebar. Multiplikasi sel merupakan keadaan normal pada Masa pertumbuhan atau proses regenerasi. Akan tetapi bila factor yang mengontrol Pembelahan sel tidak lagi berfungsi dengan normal maka keadaan ini yang disebut Penyakit kanker.

Pada penderita kanker sering disertai adanya kaheksia yaitu suatu sindroma yang Ditandai dengan gejala klinik berupa : anoreksia, perubahan ambang rasa kecap, penurunan berat badan, anemia, gangguan metabolisme karbohitdrat, protein dan lemak. Keadaan ini merupakan akibat dari kanker baik local maupun sistemik dan juga merupakan komplikasi dari penggunaan obat anti kanker. Anoreksia adalah hilangnya atau kurangnya napsu makan yang merupakan factor utama dalm terjadinya anoreksia, cepat kenyang dan meyebabkan peruabahan rasa kecap, stress psikologis yang terjadi pada kanker juga menunjang peranan dalam terjadi nya anoreksia. Penurunan napsu makan oleh berbagai penyebab tampaknya merupakan factor utama dalam terjadinya penurunan berat badan. Namun tidak jarang pada penderita yang mendapatkan asupan makanan yang adekuat juga mengalami penurunan berat badan. Penyebab lain selain beberapa hal tersebut diatas yang menurunkan berat badan adalah terjadinya hipermetabolisme pada penderita kanker. Pengobatan anti kanker seperti kemoterapi, radiasi serta pembedahan dapat mempengaruhi status nutrisi penderita. Status gizi yang baik dapat menurunkan komplikasi dari terapi anti kanker dan membuat penderita merasa lebih baik. Dukungan nutrisi merupakan bagian yang penting dalam menunjang terapi penderita kanker. Beberapa pengaruh pengobatan anti kanker pada status nutrisi :

1.   Kemoterapi.  Kemoterapi mempunyai kontribusi pada terjadinya malnutrisi dengan berbagai sebab antara lain mual, muntah, stomatitis atau sariyawan, gangguan saluran pencernaan dan penurunan napsu makan. Hal tersebut di atas selain mempengaruhi status nutrisi juga dapat mempengaruhi hasil dari pengobatan kemoterapi. Efek samping yang terjadi berhubungan dengan dosis, lama terapi, jenis obat dan respon individual.

2.   Radioterapi. Radioterapi juga berkontribusi pada terjadinya malnutrisi pada penderita kanker. Berat malnutrisi yang terjadi ditentukan oleh tempat di lakukan radiasi, dosis dan lama radiasi. Beberapa penyebab perubahan status nutrisi akibat radiasi :

 – Radiasi di kepala : menyebabkan mual, muntah.

 – Radiasi pada kepala / leher : menyebabkan mucositis,sulit menelan, susah membuka mulut

 – Radiasi thorax : susah menelan, oesofagitis.

–  Radiasi abdomen / pelvis : menyebabkan diare, gastritis, mual, muntah. Pembedahan. Tergantung dari operasi yang dilakukan. Pembedahan merupakan terapi primer untuk penderita dengan kanker pada traktus gastro intestinal atau saluran pencernaan yang mungkin dikombinasi dengan kemoterapi atau radiasi. Tumor yang berada di saluran pencernaan biasanya akan berpengaruh pada masalah nutrisi.

   Beberapa contoh akibat pembedahan pada saluran cerna ;

– Operasi gaster : penurunan absorbsi vitamin B12

– Operasi pancreas : gangguan metabolisme glukosa.

– Operasi kolon : kehilangan air dan elektrolit.

 

Tujuan terapi nutrisi pada penderita kanker antara lain :

1.  Mempertahankan status nutrisi.

2.  Mengurangi gejala sindroma kaheksia.

3.  Mencegah komplikasi.

4. Memenuhi kecukupan mikronutrien Terapi nutrisi Kebutuhan nutrisi penderita kanker sangat individual dan berubah-ubah dari waktu ke waktu selama perjalanan penyakit serta tergantung dari terapi yang di jalankan. Kebutuhan energi dan protein penderita kanker belum ada kesepakatan.

 

Secara umum dianjurkan kebutuhan kalori dianjurkan 25 – 35 kal / kg BB / hari, protein 1 – 1,5 gr / kg BB. Suplementasi vitamin sesuai kebutuhan terutama bagi yang tidak dapat mengkonsumsi dengan gizi seimbang. Cara pemberian :

 a.  melalui mulut / peroral Pemberian melalui mulut merupakan cara yang paling disukai. Namun pada penderita kanker yang mengalami anoreksia dan perubahan rasa kecap maka pemberian makanan peroral menjadi masalah dan perlu mendapatkan perhatian khusus.

Cara mengatasi beberapa masalah makan secara peroral :

–     Penyajian makanan harus dapat membangkitkan napsu makan. Pada umumnya napsu makan lebih baik pagi hari.

–     Makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering. Cara ini terbukti membawa hasil pada sebagian besar pasien karena jumlah dapat dipenuhi dengan cara yang tidak memberatkan.

–     Dengan sebaik nya tinggi kalori dan protein.

–     Pada penderita gangguan rasa kecap : Pengolahan makanan sebaiknya di beri bumbu lebih baik banyak, dan disajikan dengan bentuk dan aroma yang baik.

–     Penderita dengan gangguan menelan : makanan diberikan dalam bentuk yang mudah ditelan misalnya ditambah kuah, diberikan dengan lunak, makanan dicincang / digiling / disaring. Rasa jenis makanan dan penyajian harus sesuai dengan selera pasien.

–     Penderita dengan sariawan : konsistensi makanan harus lembut agar mudah ditelan, hindari makanan terlalu panas, berbumbu tajam, terlalu asam.

b.   Nutrisi enternal / melalui pipa Bila pemberian makanan melalui mulut tidak dapat di terima / belum adekuat maka dipertimbangkan pemberian makanan dengan cara lain.

–     Pada penderita kanker dengan fungsi saluran cerna masih baik maka makanan di Berikan melalui pipa. Pipa melalui hidung paling sering digunakan karena lebih mudah.

–     Selain itu pipa dapat juga bermuara di lambung maupun usus halus tergantung Lokasi tumor.

–     Pemilihan formula sama dengan penderita bukan kanker.

Nutrisi parenteral. Pemberian nutrisi parenteral mempunya resiko tetapi pda keadaan tertentu cara ini perlu dipertimbangkan. Misalnya pada penderita kanker dengan gangguan fungsi saluran cerna, operasi pemotongan usus yang luas atau obstruksi. Pada Penderita dengan nturisi parenteral ini perlu dipantau dengan ketat karena selain mahal juga efek samping nutrisi ini cukup besar. Pemantauan Evaluasi harus dilakukan secara rutin dan teratur melalui perubahan status medis, status nutrisi dan pemeriksaan laboratorium. Bila terjadi perubahan pada slah satu hasil tersebut maka perencanaan nutrisi haru disesuaikan, penyesuaian dapat berupa perubahan pilihan makanan, waktu pemberian makanan, komposisi nutrient dan cara pemberian makan.

 

Source : http://www.dharmais.co.id/new/content.php?page=article&lang=id&id=4

Penulis: Dr. Ririn Hariani MS.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: